Rabu, 10 Juni 2009

Baby blues atau Depresi Postpartum?

Tadinya aku berfikir jika bayiku lahir masalahku sudah selesai, ternyata aku salah. Justru ada masalah lain yang kemudian menghampiriku, aku mengalami distress postpartum. Mungkin karena menuntut terlalu banyak akhirnya aku jadi kecewa sendiri, tadinya aku berharap persalinanku normal namun leher bayiku dililit oleh plasenta, detak jantungnya sudah melemah sementara air ketubanku sudah sedikit sehingga tak memungkinkan untuk diinduksi terpaksa aku harus melalui bedah Caesar.

Belum pulih keletihanku, aku harus merawat luka operasiku, aku harus mengerjakan semua sendiri pekerjaan rumah tangga, mengurus bayi, rasanya semua ini amat menyiksaku. Tak ada lagi waktu luang yang kumiliki untuk bisa bersantai dan menikmati istirahat dimalam hari. Disaat sekarang sepertinya yang kubutuhkan hanya tidur, rasanya kantuk selalu menghinggapi. Bayiku mengis terus membuatku tak bisa istirahat, menyusui, mengganti popok (apalagi sekarang musim hujan) berulang-ulang seharian sepanjang malam, uh… rasanya menderita sekali. Kesibukan yang itu-itu saja tanpa bantuan pihak lain membuatku stress dan keletihan. Tak ayal, aku melampiaskan kekesalanku pada bayiku, aku membentaknya layaknya dia akan mengerti dan menghentikan tangisannya bahkan pernah tiga kali aku mencubit dan memukulnya (ini diluar control banget, aku seperti bukan diriku lagi) Padahal bayi mungilku ini tak bersalah, dia belum tahu apa-apa dan memang ketika aku membentak dan memukulnya dia berhenti menangis seperti mengerti keinginanku. Tapi ketika aku sadar aku menangis sejadi-jadinya menyesali perbuatanku, mencium dan memeluknya lalu berulang-ulang memohon maaf. Aku sangat takut kalau tindakanku akan berdampak negatif pada perkembangan mental psikisnya. (Ya Allah maafkan aku yang tidak mensyukuri anugerahmu, bocah mungil tak berdaya nan lucu ini tak bersalah aku yang masih kurang bersabar dan tidak belajar untuk terus sabar. Aku mohon ampun ya Allah....aku ingin menjadi ibu yang baik)

Inilah resikonya jauh dari keluarga, jarak yang memisahkan membuat kita harus berjuang sendirian. Sebenarnya jauh sebelum persalinan kami sudah mencari orang yang bisa membantu selama masa pemulihan sampai nantinya menjadi pengasuh bayiku jika aku sudah kembali bekerja. Tapi ternyata tak semudah yang kami kira, semua yayasan kami jajali bahkan tetanggapun kami mintai bantuannya untuk mencarikan sekiranya ada yang bisa membantu. Suamiku bekerja dari pagi sampai menjelang malam hari, praktis semua aku yang tangani semua urusan rumah tangga, memang sih dia juga turut mengurusi bayi kami malam harinya, tapi tetap saja aku merasa kurang diperhatikan. Kadang aku amat kasihan padanya, wajahnya tampak begitu lelah tapi dia tetap berusaha semampunya mengurusi aku dan bayiku. Melihatnya ketabahannya aku kadang menangis tanpa sepengetahuaannya. Aku bersyukur memilikinya sebagai pendampingku, dia begitu setia, tak pernah mengeluh dan selalu berusaha memberikan yang terbaik untukku. Sering dia mengingatkan sebaiknya tak perlu terlalu memusingkan urusan rumah ’biarin aja berantakan, kalau bayi tidur kamu istirahat aja’ begitu selalu anjurannya, namun justru aku yang tak mendegarkan sarannya.

Mungkin kelihatannya berlebihan atau malah gak masuk akal, tapi kondisi seperti itu bisa dialami siapa saja. Bayangkan dalam kondisi lelah, sakit, harus mengerjakan semuanya sendiri. untuk saat seperti ini perhatian dari suami dan keluarga amatlah penting. Bukan hanya perhatian terhadap sang bayi tapi juga si Ibu, karena kerap kali bayi yang baru lahir menyedot perhatian semua orang sementara Ibu terlupakan. Justru dengan memberikan perhatian pada si Ibu ia akan merasa disayang dan terpenuhi kebutuhannya otomatis si Ibu juga memberikan hal yang sama pada bayinya.

Distress Postpartum (DP) atau stress pasca persalinan dialami 80 % wanita setelah bersalin. Inilah semacam perasaan sedih atau uring-uringan yang melanda ibu dan timbul dalam jangka waktu dua hari sampai dua minggu pasca persalinan. Berita baiknya, hal ini tergolong normal dan hanya sementara.

Belum ada analisis pasti penyebab stress ini, sensitivitas ibu terhadap perubahan hormonal dianggap hanya sebagian faktor pencetus. Faktor lainnya diduga karena ibu harus banyak menyesuaikan diri dan menghadapi tuntutan. Penyebab lain yg mungkin adalah riwayat keluarga tentang depresi, kurang dukungan keluarga setelah melahirkan, isolasi, dan keletihan kronis.

Gejala-gejala DP antara lain, rasa khawatir, kurang percaya diri, kurang merasa menerima bayi yang baru dilahirkan, sangat kelelahan, harga diri rendah, tidak sabaran, terlalu sensitif, sangat mudah marah, dan gelisah.

Berbagai bentuk distress postpartum
Bentuk paling ringan adalah baby blues yang berlangsung hanya beberapa hari dan gejalanya tidak memburuk.
Distress postpartum yang lebih berat disebut depresi postpartum (DP)yang melanda sekitar 10 % ibu baru, perbedaannya dengan baby blues terletak pada frekuensi, intensitas, dan durasi gejala, masalah tidur merupakan salah satu cara membedakannya. Jika ibu dapat tidur sementara orang lain mengasuh bayinya, itu disebut baby blues, namun jika ibu tidak bisa tidur karena ansietas, ini merupakan PPD. PPD dapat terjadi dua minggu sampai setahun pasca persalinan, ibu mungkin akan merasa marah, bingung, panik, dan tidak berdaya. Mungkin juga terjadi perubahan pola tidur dan makan. Ibu mungkin takut menyakiti bayinya atau merasa akan menjadi gila. Ansietas merupakan salah satu gejala utama PPD. Bentuk DP yang lebih parah adalah psyhosis postpartum. Ibu mungkin mengalami halusinasi, berpikir untuk bunuh diri, atau mencoba untuk membahayakan bayinya. Baik PPD maupun psychosis postpartum membutuhkan terapi professional.

Sekedar berbagi buat yang membutuhkan, jika anda baru akan memiliki anak, jauh dari keluarga dan sampai persalinan belum menemukan orang yang bisa membantu, sebaiknya persiapkan::
1. Lupakan sementara rumah yang harus selalu rapi seperti saat belum punya bayi, lebih baik habiskan waktu buat menikmati kebersamaan kita dan bayi. Apalagi buat Ibu bekerja, cuti 3 bulan adalah waktu yang singkat jangan sia-siakan hanya karena urusan rumah yang sepele
2. Jika bayi sedang tidur sebaiknya ikutan tidur, karena setelah proses persalinan tidur adalah kebutuhan yang sangat berharga untuk percepatan pemulihan
3. Nikmati peran baru sebagai Ibu, setiap hari akan ada hal-hal baru, so enjoy it.
4. Bernyanyilah atau dengarkan musik favoritmu, ini akan memberikan spirit dan ketenangan tersendiri buatmu.
5. Mintalah bantuan pihak lain jika memang dibutuhkan
6. Jangan sungkan membicarakan keinginan kita pada suami atau keluarga
7. Jika semua hal itu belum cukup membantu, jangan malu untuk meminta bantuan terapi dari ahli (psikolog)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar