Dimasa sekarang, sudah bukan pemandangan aneh melihat wanita berkarier di bidang yang biasanya dikuasai pria. Dari eksplorasi minyak di tengah laut, pilot, pengemudi taksi, hingga memanjat menara telekomunikasi. Bahkan, banyak di antara wanita tersebut yang menjadi atasan. Apa yang membuat mereka bisa diterima dan diakui di tempat kerjanya? Wanita yang diterima biasanya memiliki kemampuan minimal sepadan atau lebih dari para pria.
Biasanya wanita memang lebih tekun ketimbang pria. Tapi sering kali ketika menyampaikan pemikirannya, wanita kurang bisa tegas dan berani. Sehingga sering kali pula pendapatnya jadi diabaikan. Padahal semua kelebihan dan kekurangan karakter kerja itu sebetulnya kembali ke individu masing-masing.
Pendapat "Bahwa wanita bekerja dengan hati atau memakai emosi, sedangkan pria bekerja memakai rasio
" nyatanya tidak selalu begitu. Ada juga pria yang bekerja dengan emosi. Begitu pula ada wanita yang bekerja sangat rasional. Padahal yang penting, wanita ataupun pria, bila ingin diterima dengan tangan terbuka di tempat kerja , harus menunjukkan kompetensi dan profesionalismenya.
Akan tetapi kenyataan sehari-hari dalam dunia kerja perlakuan terhadap perempuan ini seringkali amat diskriminatif, sejumlah pekerja atau atasan pria bisa bersikap fair kepada sesama pria, tapi ketika bekerja dengan wanita, ia belum tentu bersikap sama adilnya. mereka cenderung menganggap wanita sebagai warga negara kelas dua.
Demikian juga halnya akan kondisi dan peran perempuan yang harus mengalami proses-proses biologis seperti hamil, melahirkan dan menyusui. Dan hal ini seringkali membuat para perempuan pekerja yang potensial meninggalkan pekerjaannya akibat ketidakpekaan lingkungan kerjanya.
Kondisi kehamilan, melahirkan dan pasca persalinan yang begitu kompleks bagi pekerja perempuan, hal ini seringkali mengubah paradigma para atasan maupun rekan kerja pria terhadap kinerja perempuan tersebut secara keseluruhan.
Selama ini perempuan harus menanggung peran ganda lebih disebabkan oleh kesalahan paradigma yang sangat materialistik.
Yang dilakukan laki-laki dianggap sebagai kerja karena menghasilkan uang.
Sedangkan apapun yang dilakukan perempuan, walaupun sesungguhnya sangat berat (bahkan harus mempertaruhkan nyawa ketika hamil dan melahirkan - dan tidak pernah bisa dilakukan laki-laki) hanya dianggap aktivitas belaka, karena tidak menghasilkan uang. Atau kasarnya kondisi kehamilan dan cuti melahirkan tidak berkaitan langsung terhadap pekerjaan dalam perusahaan dan malah menambah cost baru bagi perusahaan untuk hiring penganti sementara karyawan perempuan yang bersangkutan cuti.
Oleh karena itu potensi serta performance yang ditunjukkan perempuan selama bertahun-tahun bisa hancur berantakan akibat kondisi tersebut. Belum lagi permasalahan setelah cuti, yang bersangkutan biasanya memulai lagi dari nol akibat ketertinggalan isu-isu terkini dan pendelegasian tugas yang dilakukannya.
Dalam pemberitaan beberapa hari lalu Menteri Negara BUMN kembali melontarkan gagasan luar biasa agar perempuan yang melahirkan memperoleh cuti sampai dua tahun. Kendati baru terbatas pada gagasan dan dalam lingkup birokrasi BUMN, namun gagasan tersebut akan menjadi awal yang sangat baik untuk menjadikannya sebagai kebijakan dengan lingkup yang lebih luas. Hal tersebut memiliki perspektif yang sangat futuristic, sebab jika dikelola dengan baik pemberian cuti tersebut akan berimplikasi sangat luas, bukan hanya pada perempuan yang memperoleh cuti, tetapi terlebih kepada anak-anak yang mereka lahirkan. Perhatian yang cukup dan pengurusan yang optimal akan melahirkan dan menumbuhkan generasi baru yang berkualitas yang mampu mendorong kemajuan peradaban Negara. (Serius.. implikasinya bisa sebesar ini lho)
Mungkin sebagian pemikiran jangka pendek hanya bermasalah soal berapa uang yang harus dikeluarkan untuk menanggung perempuan yang cuti karena hamil dan melahirkan kemudian mengurus anak. Tetapi dalam jangka panjang kita harus melihat secara jauh bahwa hal ini juga merupakan kontribusi yang sangat besar dalam menyiapkan generasi berkualitas dimasa mendatang.
Bahkan Nabi Muhammad telah melihat hal itu jauh sebelum seorang ‘Dahlan Iskan’ mengeluarkan gagasan ini. Beliau secara tegas menyatakan bahwa perempuan adalah tiang Negara. Cara pandang Nabi tersebut sangat masuk akal karena perempuan merupakan agen yang memiliki kesempatan paling besar untuk mempengaruhi cara berfikir dan berperilaku umat manusia.
Semoga gagasan ini bukan hanya sekedar wacana dan semoga kedepannya tidak ada lagi paradigma yang menghambat kemajuan perempuan dalam pekerjaannya.
Semoga.... (hopes)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar