Sabtu, 03 Juli 2010

Curhat nih....

Hari libur, namun ada pembayaran urgent yang harus dilakukan pagi ini, segera aku menuju warnet yg hanya berjarak 100 m dari rumah karena ATM lumayan jauh mendingan pembayaran via intenet banking aja (he..he.. maklum biasa pake jatah dari kantor suami sih, giliran gak dapat fasilitas netbook dan modem rasanya agak terbatas aja ruang gerak di dunia maya solusiya ya warnet aja deh)

Namun betapa kagetnya aku jam 8 pagi begini warnet dipenuhi anak-anak usia sekolah huff.. akhirnya aku sadar ini musim liburan sekolah, pantes aja anak-anak yang masih belekan sudah pada mantengin warnet) yang ramenya ngalahin pasar pagi(hiperbola dot com. Tapi yang membuatku penasaran sekaligus prihatin adalah penjelasan sang penunggu warnet (kayak rumah atau pohon angker aja ada penunggunya yak :>)anak-anak ini biasa nongkrongi game online PB dari pagi sampai menjelang sore.

Oh iya PB itu adalah permainan Point Blank, ceritanya adalah pertempuran (battle) antara penegak hukum dan teroris. Setiap mengikuti battle pengalaman pemain akan bertambah dan bisa naik pangkat. Apabila memenangkan battle para PBers (sebutan untuk pemain PB) mendapatkan poin atau voucher cash yang bisa digunakan untuk membeli senjata mutakhir (Bisa anda bayangkan betapa menegangkan dan membuat jantung berdegup kencang :<)
Dalam permainan ini juga mengenal istilah klan yakni kelompok PBers yang sudah mumpuni dan sesama anggota klan biasanya akan saling membantu dan pinjam senjata.

Selain permainan ini tergolong keras (saya menyebutnya demikian karena permainan tersebut memang menampilkan tayangan kekerasan seperti letupan senjata api atau dentuman ledakan granat bahkan sesekali terlihat darah dari pemain yang tewas tertembak) menurut saya sangat membahayakan. Bagaimana tidak membahayakan, kekerasan menjadi hal biasa dan bisa jadi lama kelamaan anak-anak tidak lagi memiliki kehangatan emosional bahkan melakukan bullying akibat permainan yang tidak mendidik.

Sebagai seorang ibu, saya sangat prihatin tidak saja dengan perkembangan mental anak-anak kita kedepannya, namun lebih dari itu amat diperlukan upaya yang keras dan konsistem dari kita sebagai orang tua agar anak- anak kita jangan sampai kehilangan jiwa anak-anak didalam dirinya serta kehangatan emosionalnya karena diera digital ini kita tak dapat sepenuhnya membendung rasa ingin tahu dari anak-anak kita serta kemajuan informasi itu sendiri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar